Halaman

    Social Items

Search and Buy other Templates on IDNTHEME
KH. Abdul Hamid Chasbullah

KH. Andul hamid chasbullah dilahirkan di dusun tambakberas, desa tambakrejo, jombang, tepatnya di pesantren tambakberas. Beliau merupakan putra ke dua dari delapan bersaudara (Abdul Wahab, Abdul Hamid, Khodijah, Abdur rohim, Fatimah, Sholihah, Zuhriyah dan Aminatur Rokhiyah) dari pasangan KH. Hasbullah said dengan nyai lathifah.

Kakaknya yang bernama KH. Abdul Wahab Chasbullah merupakan tokoh sentral pendiri dan penggerak NU. Sedang adiknya yang bernama nyai khodijah merupakan istri KH. Bisri Syansuri (juga salah satu pendiri NU dan pendiri pesantren denanyar jombang). Adapun adiknya lagi yang bernama KH. Abdurrohim memperistri nyai mas wardliyah Yogyakarta (keponakan KH. Ahmad dahlan pendiri muhammadiyah). Adik mbah hamid yang lainnya, yakni nyai Fatimah diperistri oleh KH. Hasyim kapas jombang.

Masa kecil mbah hamid dihabiskan untuk mondok dari pesantren ke pesantren, diantaranya pesantren bangkalan Madura yang diasuh oleh mbah kholil, pesantren langitan tuban, pesantren tebuireng dibawah bimbingan KH. Hasyim asyari, pesantren krapyak yogjakarta dibimbing langsung oleh mbah kiai munawwir. Selanjutnya, mbah hamid menuntut ilmu di makkah al mukarromah.

Setelah sekian lama malang-melintang mengembara mencari ilmu, mbah hamid langsung kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan hidupnya dalam melanjutkan perjuangan ayahnya, yakni mengembangkan pesantren tambakberas, bersama mbah wahab dan mbah abdurrohim. Beliau bertiga berkolaborasi untuk membesarkan pesantren tambakberas dengan pembagian tugas yang sangat dinamis. Mbah wahab konsentrasi di luar untuk membesarkan NU dan terlibat perpolitikan nasional, sedangkan mbah abdurrohim mengurusi perkembangan madrasah, adapun mbah hamid mengurusi pengajian pondok dan sholat lima waktu.

Mbah hamid hasbullah terkenal sebagai sosok kiai yang zuhud, wira’I, sederhana, daimul wudlu dan istiqomah dalam berkhidmat di pesantren. Beliau lulusan terbaik ilmu al quran di pesantren krapyak. Kitab yang sering dibaca beliau antara lain kitab shahih bukhori, shahih muslim dan tafsir al quran, dalam bidang al quran mbah hamid termasuk sosok yang diakui kepakarannya, salah satu peninggalan beliau adalah mushaf al quran 30 juz dengan tulisan tangan beliau sendiri.

Dalam kesehariannya, beliau sangatlah sederhana, bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur tidak jarang beliau mengalami kesulitan. Namun demikian hambatan itu tidak menyurutkan pengabdian dan keikhlasannya untuk mengayomi dan ngopeni para santri, baik santri yang tinggal di pesantren tambakberas maupun santri yang tinggal di pesantren sambong, sekaligus menemani istri ketiga beliau yang mukim di pesantren sambong, pembagian waktu mengaji ini dilakukan mbah hamid setiap hari senin pagi sampai selasa sore.

Beliau juga mempunyai rutinan ngaji dan istighotsah di desa kalijaring. Jemaahnya adalah para orang tua dan kiai kiai kampung yang biasa dilaksanakan setiap hari kamis malam jumat, yang biasanya dilaksanakan di atas jam 10 malam.

Suatu hari pada tanggal 8 ramadhan tahun 1956 M, seperti biasa mbah hamid istiqomah ngaji wethonan kitab, saat mengaji beliau kemudian mengambil air wudlu dan meneruskan pengajiannya, tak lama setelah itu beliau seperti orang yang tertidur sambil memegang kitab di hadapan para santri. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun… ternyata beliau menghembuskan mafasnya yang terakhir.

KH. Abdul Hamid Chasbullah (Pengasuh Keempat)



Tidak sedikit dan tidak terhitung hadits-hadits Nabi Saw yang menjelaskan keutamaan dan hikmahnya membaca shalawat kepada baginda Rasul Saw.

Disni saya akan menyampaikan sebuah kisah terkait ampuhnya banyak membaca shalawat.

Wajah yang hitam legam serta Perut yang membesar, membengkak dan menggelembung disebabkan banyaknya kemaksiatan yang dilakukan. Keduanya bisa pulih seperti sedia kala disebabkan banyak membaca shalawat.

Dikisahkan dari Imam Sufyan Ats Tsauri –Radliyallahu ‘anhu -, “Sesungguhnya beliau melihat seorang lelaki sedang thawaf. Didalam thawafnya, lelaki itu banyak membaca shalawat kepada baginda Rasul Saw. Melihat yang demikian ini, lalu beliau berkata (bertanya) kepadanya: “Mengapa kamu hanya memperbanyak membaca shalawat kepada baginda Rasul Saw saja, sedangkan bacaan-bacaan dzikir dan tasbih yang berlaku bagi orang yang melakukan thawaf tidak kamu baca?. Apakah dibalik ini ada suatu rahasia?”.

Mendapat pertanyaan yang demikian ini, lalu ia bertanya (kepada Sufyan): “kamu ini siapa?”. Sufyan menjawab: “Aku adalah Sufyan Ats Tsauri”.

Setelah mengetahui, lelaki tersebut berkata: “Seandainya bukan tuan, aku tidak akan mebuka tentang diriku dan aku tidak akan memberi tahu tentang rahasia diriku”.

Lalu ia bercerita:
“Suatu saat aku pergi menunaikan ibadah haji dengan orang tuaku. Beliau meninggal dunia. Wajah beliau menghitam, perutnya membengkak dan menggelembung serta kedua matanya metoto (melotot)”. Melihat kondisi orang tuaku yang demikian ini, aku mengucapkan: “Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Raji’un”.

Lalu jenazah beliau aku tutupi. Setelah itu, mataku terpejam tidur. Didalam tidur, tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang sangat amat ganteng yang sebelum ini aku belum pernah melihatnya. Ia memakai baju yang sangat amat bersih yang seblumnya aku belum pernah melihatnya. Baunya sangat amat harum yang sebelumnya aku belum pernah menciumnya. Lalu, lelaki itu membuka dan mengusap wajah orang tuaku. Setelah diusap, warna wajah orang tuaku lebih putih dari pada laban. Lalu perut orang tuaku diusapnya dan kembali seperti semula”. 

Kemudian aku bertanya: “Tuan siapa?”. Lelaki tersebut menjawab: “Aku adalah Muhammad Saw, utusan Allah. Ayahmu itu banyak melakukan kemaksiatan. Namun dia banyak membaca shalawat kepadaku. Ketika ia terkena adzab sebagaimana yang kamu lihat, lalu ia minta pertolongan kepadaku. Aku adalah orang yang paling banyak menolong kepada orang-orang yang banyak membaca shalawat kepadaku ketika mereka masih hidup di dunia”.

Ketika aku terbangun dari tudur, aku melihat wajah orang tuaku berwarna putih bersih, lebih putih dari pada laban. Perutnya pun puleh seperti sedia kala. 

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد

Sumber : KH. Abdul Nashir Fattah

Ampuhnya Membaca Shalawat Bagi Umat Muhammad

KH. Abdul Wahab Chasbullah

Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah (lahir di Jombang31 Maret 1888 – meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun) adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014

Silsilah Nasab

Nasab KH Hasyim Asy’ari dan Kyai Chasbullah bertemu dalam satu keturunan dengan KH. Abdussalam. Jika diurut ke atas, nasab keluarga ini akan bermuara pada Lembu Peteng, salah seorang raja di Majapahit.

Wafat

Wafatnya KH. Wahab Chasbullah Sebelum wafat KH. Wahab masih sempat menghadiri Muktamar NU ke-25 di Surabaya dan terpilih sebagai Ro’is ‘Am PBNU. Pun juga masih bisa memberikan suaranya bagi partai NU dalam pemilu tahun 1971. Menurutnya menghadiri Muktamar NU dan memberikan suara pada pemilu adalah bagian dari salah satu perjuangan, karena perjuangan adalah bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan. Tetapi empat hari setelah Muktamar NU di Surabaya, kyai yang banyak berjasa terhadap bangsa ini dipanggil kehadirat Allah swt. Beliau wafat pada 29 Desember 1971 di kediamannya yang sederhana di kompleks pesantren Tambakberas, Jombang.

Pendidikan

Sejak kecil beliau dididik secara langsung oleh ayahnya. Beliau diajari pendidikan agama, seperti membaca al-Qur’an, tasawuf, dsb. Setelah dipandang cukup, KH. Wahab berkelana ke berbagai pesantren untuk berguru, di antaranya di Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Pesantren Mojosari-Nganjuk di bawah bimbingan Kyai Sholeh, Pesantren Tawangsari-Surabaya, dan Pesantren Bangkalan-Madura di bawah bimbingan langsung KH Cholil Bangkalan yang masyhur itu. Oleh Kyai Kholil, Kyai Wahab disuruh berguru di Pesantren Tebuireng, Jombang. Di berbagai pesantren inilah KH. Wahab menimba pengetahuan dan pengalaman. Beliau mempelajari kitab-kitab penting keagamaan sampai mahir.
Pada usia 27 tahun KH. Wahab meneruskan pendidikannya ke Makkah. Di kota suci itu beliau berguru kepada ulama terkenal diantaranya KH. Machfudz Termas, KH. Muhtarom Banyumas, Syekh Ahmad Chotib Minangkabau, KH. Bakir Yogyakarta, KH. Asya’ri Bawean, Syekh Said al-Yamani dan Syekh Umar Bajened. Semua itu menambah lengkapnya wawasan sosial dan pengetahuan keagamaan KH. Wahab. Melihat riwayat pendidikannya, tidak heran jika di kalangan ulama dan para pejuang sebayanya, KH. Wahab tampak paling menonjol di segi wawasan pemikiran dan pengetahuannya. Seperti kebiasaan pola hidup di pesantren, KH. Wahab pun hidup dengan sangat sederhana. Untuk memenuhi nafkah keluarganya, KH. Wahab berdagang apa saja yang penting halal. Di antaranya beliau pernah berdagang nila dan pernah menjadi perwakilan sebuah biro perjalanan haji. Karena banyaknya bidang usaha yang digeluti, beliau mempercayakan pengelolalaan usahanya kepada orang lain dengan cara bagi hasil. KH. Wahab selalu dilukiskan sebagai orang yang energik, penuh semangat, ramah dan berwibawa.

Silsilah Keilmuan

  • KH Hasyim Asy’ari
  • Syekh Mahfudz At-Tarmasi
  • KH. Muhtarom Banyumas
  • Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
  • KH Bakir Yogyakarta
  • KH Asya’ri Bawean
  • Syekh Said al-Yamani
  • Syekh Umar Bajened

Jasa dan Karya Beliau

Pendiri NU

Pancaran sinar wajahnya menyimpan aura kelembutan dan kasih sayang. Selain pemurah kyai yang satu ini sulit untuk marah dan dendam. “Meskipun orangnya kecil, beliau tampak selalu bersikap gagah,” kata KH Saifuddin Zuhri, salah seorang pengagumnya. Selanjutnya KH. Saifuddin Zuhri juga melukiskan bahwa KH. Wahab adalah ulama yang mempunyai pengetahuan sangat luas, tidak terbatas pada bidang agama saja. Orang yang pernah dekat dengannya tidak pernah jemu mendengarkan uraian kata-katanya yang serba baru dan selalu mengandung nilai-nilai kebenaran. KH. Wahab bukan termasuk golongan ulama “klise”. Tindak tanduk dan tutur katanya selalu orisinal yang keluar dari perbendaharaan ilmu dan pengalamannya. Beliau tidak pernah merasa canggung saat berbicara di muka ribuan manusia. Beliau tidak bangga bila berbicara di hadapan orang banyak, begitu juga tidak pernah kecewa bila yang mengerumuni sedikit orangnya. Selain karena kecerdasan otaknya, retorika penyampaiannya juga menarik sehingga setiap uraian kata-katanya dapat didengar dan dicerna dengan baik dan tidak membosankan.
Bagi warga NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH. Wahab tidak sekadar tokoh dan pendiri, melainkan juga sebagai simbol pemersatu, yang menarik juga adalah tradisi intelektualnya di kalangan ulama pesantren. Diceritakan bahwa KH. Wahab mendirikan, memelihara dan membesarkan NU dengan ilmunya, baru kemudian dengan harta dan tenaganya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika orang menyebut KH. Wahab adalah ruh sekaligus motor penggerak NU, sejak NU berwujud kelompok kecil yang tidak diperhitungkan sampai menjadi jam’iyah Islam terbesar di Indonesia. Agak sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok KH. Wahab Chasbullah.
Meminjam istilah KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Wahab dijuluki sebagai “kyai merdeka”. Sepanjang sejarah perjuangannya, kyai dari Jombang ini memang berjiwa bebas, berpendirian merdeka, tidak mudah terpengaruh lingkungan sekeliling. “Bukan “pak turut” (selalu ikut-ikutan)”, istilah KH. Saifuddin Zuhri. Bahkan sampai cara berbicara, berjalan dan berpakaian pun beliau tidak meniru orang lain. Kyai nyentrik ini mempunyai ciri khas dalam berpakaian, selalu memakai surban. Hingga suatu ketika menurut cerita KH. Saifudin Zuhri saat KH. Wahab berbicara dalam sidang parlemen sebelum naik ke podium beliau terlebih dahulu membetulkan letak serbannya. Pada saat itu ada orang nyeletuk, “Tanpa serban kenapa sih?”. Sambil menunjuk serbannya, KH. Wahab kontan menjawab, “Ini Serban pangeran Diponegoro!, beliau, Kiai Mojo, Imam Bonjol, Teuku Umar semuanya pakai serban”.
Mendengar perkataannya seluruh peserta sidang tertawa semuanya sehingga ruangan sidang dipenuhi gelak tawa anggota parlemen. Kiai Penuh Prestasi Prestasi-Prestasi KH. Wahab Chasbullah sangat banyak sekali. Seperti mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar tahun 1914, mendirikan pergerakan Nahdlatul Wathan dan Syubbanul Wathan bersama KH. Mas Mansur, memprakarsai pembentukan Komite Hijaz, memprakarsai berdirinya NU. Di bidang jurnalistik, dia merintis majalah Suara Nahdhatul Ulama yang terbit setengah bulan sekali. Beliau memandang, bahwa dengan majalah gagasan-gagasan NU dapat tersebar secara lebih efektif dan efisien.

Pejuang Kemerdekaan

Sebelumnya gagasan NU hanya dijalankan melalui dakwah dari panggung ke panggung dan pengajaran di pesantren. Selain itu beliau bersama dengan tokoh NU lainnya membeli gedung di Jalan Sasak 23 Surabaya sebagai pusat aktivitas NU. Berangkat dari gagasn KH. Wahab di bidang jurnalistik ini kemudian menyusul terbitnya majalah-malajah lain, seperti Suluh Nahdlatul Ulama dipimpin Umar Burhan, Terompet Ansor dipimpin Tamyiz Khudlory dan majalah Penggugah yang berbahasa Jawa dipimpin oleh K. Raden Iskandar yang kemudian digantikan Saifuddin Zuhri. Dari tradisi jurnalistik ini, NU pernah mempunyai jurnalis-jurnalis ternama seperti Asa Bafaqih, Saifuddin Zuhri dan Mahbub Junaidi. KH. Wahab juga dikenal sebagai pengatur strategi perjuangan yang baik dalam kancah politik Islam. Beberapa prestasinya adalah seperti pembentukan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan Masyumi.
Lewat pergerakan inilah KH. Wahab terlibat dengan tokoh-tokoh terkemuka, seperti K. Mas Mansur, Dr. Sukiman, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Sartono, Sukarjo Wiryopranoto, Amir Syarifuddin, dsb. Tidak salah lagi, jika KH. Wahab dikategorikan salah seorang yang mempunyai andil terbesar dalam meletakkan dasar-dasar organisasi NU. Hampir di semua sektor beliau menggagas ide-ide yang cemerlang untuk perkembangan NU mulai dari tradisi intelektual, jurnalistik, peletak dasar struktur Syuriah dan Tanfidziyah NU, sampai siasat bertempur di medan laga. Karena beliau mempunyai prinsip, “kalau kita mau keras harus punya keris.” Artinya kalau ingin besar seseorang harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan politik, militer maupun batin. Selain prestasi-prestasi yang tersebut di atas perlu dicatat juga dalam diri KH. Wahab adalah keaktifannya dalam gerakan-gerakan melawan penjajah untuk membebaskan negara ini dari kungkungan penjajajah seperti dibuktikannya dalam Laskar Hizbullah pimpinan KH. Zainal Arifin, Laskar Sabilillah pimpinan KH. Masykur dan Barisan Kyai pimpinan beliau sendiri untuk berperang melawan penjajah.

Komite Hijaz sebagai Benteng Islam Aswaja

Prestasi gemilang lainnya adalah keberhasilannya memperjuangkan kepentingan kaum sunni untuk mendapat perlindungan dan kebebasan di negara Arab Saudi dalam Kongres Dunia Islam di Mekkah. Pada saat itu Raja Saud Arab Saudi melarang berkembangnya faham sunni di negara kekuasaannya. Akan tetapi karena usulan KH. Wahab beserta tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Komite Hijaz, diantaranya KH Bisri Syansuri, K. Ridwan Semarang, KH Raden Asnawi Kudus, K. Nawawi Pasuruan, K. Nachrowi Malang dan K. Alwi Abdul Aziz Surabaya akhirnya Raja Saud membebaskan faham sunni hidup dan berkembang di Mekkah.
Dalam khutbah iftitah terakhir sebagai Rois ‘Am, KH. Wahab mengharapkan supaya NU tetap menemukan arah jalannya dengan selalu menyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah swt. sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan melalui cara-cara yang sesuai dengan akhlak Ahlussunnah wal- Jama’ah. Beliau juga mengingatkan agar kaum Nahdliyin kembali pada jiwa Nahdlatul Ulama tahun 1926 atau lebih dikenal dengan khittah NU 1926. Demikianlah sosok KH. Wahab Chasbullah, kyai yang diberkati memperoleh kesempatan hidup dalam tiga zaman, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan (orde lama) dan zaman pembangunan (Orde Baru). Maka tak heran jika pengalaman dan sejarah hidupnya selalu dikenang sepanjang masa karena jasanya yang tidak sedikit.

KH. Abdul Wahab Chasbullah, Pendiri Nahdlatul Ulama (Pengasuh Ketiga)


Pada suatu pagi, disebuah warung yang tenang, berkumpulah beberapa orang santri yang masih lugu dan polos, yakni mentok dan bopeng.

Seperti biasa pada kalangan pesantren. Tatkala itu mereka sedang berbincang mengenai persoalan apa yang di kajinya seputar ketauhidan / Ke-esa-an Allah SWT.

  • Bopeng : Saiki opo contohe gawe wong awam nek gusti allah iku bener bener onok ?
  • (Sekarang apa contohnya buat orang awam kalau Allah itu benar benar ada ?)


  • Mentok : Sampean ngerti robot ? Robot iku mosok tau ngerti lek seng nggawe awak e iku menungso. yo podo karo menungso, tp semunu ugo, robot iku tetep ngelakoni program teko penciptane.. ws podo ae karo menungso. 
  • (Kamu tau robot ? robot itu masa tau kalau yang membuat nya itu manusia. ya sama seperti manusia, tapi walaupun begitu, robot itu tetap melakukan apa yang sudah diprogramkan oleh penciptanya.. ya sama saja seperti manusia)


  • Bopeng : Tapi kan yo onok robot iku seng ngerti penciptane , lek ngunu pie ?? 
  • (tapi kan juga ada robot yang tau penciptanya, bagaimana itu ?)


  • Mentok : Robot seng ngunuku mau podo karo menungso seng drajat e wes di angkat karo gusti Allah. contoh e poro wali lan nabi, mereka bener bener wes ngerasakne interaksi langsung karo penciptane, mergo wes di weh.i sistem seng lebih karo penciptane ..dadi intine tugas e menungso yo wes manut ae karo seng wes di programne, yo kuwi ibadah. koyo awak dewe ngeneki dadi santri yo seng temen, engko lek wes bener bener temen iso ae gusti Allah ngangkat drajad e dewe iso luweh parek ng gusti Allah seng nyiptakne menungso.
  • (Robot yang seperti itu sama dengan manusia yang derajatnya sudah diangkat sama Allah. contohnya para wali dan nabi, mereka benar benar sudah merasakan interaksi langsung dengan penciptanya, karena sudah dikasih sistem yang lebih oleh penciptanya.. jadi intinya tugasnya manusia itu oatuh saja dengan aturan yang sudah diprogramkan, yaitu ibadah. Seperti kita ini jadi santri ya yang serius, nanti kalau sudah benar benar betul, bisa saja Allah mengangkat derajat kita menjadi lebih dekat dengan Allah yang menciptakan manusia)


*mentok dan bopeng merupakan alam laqob (Panggilan) yang biasa dipakai kang santri untuk menyapa temannya lebih akrab 

*bismillah jum'at barokah

Sumber : M. Anis Abdillah (Salah satu santri senior pondok induk)

Obrolan Lugu Santri Tentang Ketuhanan


Tanggal 31 Januari menjadi momentum langka untuk tiga peristiwa lunar yang terjadi secara bersamaan. Tiga fenomena itu berupa supermoonblue moon, dan gerhana bulan total. Peristiwa ini dinanti semua orang di seluruh dunia karena menjanjikan penampakan bulan yang indah. 

Peristiwa tersebut terihat jelas di Tambakberas dengan mata telanjang.

Pada momentum itupun PP Bahrul Ulum mengadakan sholat gerhana secara serentak di ribath-ribath. untuk pondok induk juga mengadakan sholat gerhana yang bertempat di masjid jami' tambakberas.

Sebelumnya, Agus H. Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq) menjelaskan tentang tata cara sholat gerhana. Secara umum pelaksanaan sholat gerhana diawali dengan sholat 2 rokaat kemudian disusul dengan 2 khutbah seperti sholat idul fitri dan idul adha.

yang membedaan hanyalah setiap rokaat sholat gerhana, dilakukan dengan 2 kali berdiri dan 2 kali rukuk.

Sholat gerhana dilaksanakan setelah sholat isya, yang diimami oleh Gus Rozaq dan diikuti oleh seluruh santri pondok induk, dan warga sekitar.

menurut penuturan beberapa santri, "bertepatan dengan terjadinya gerhana, memang harusnya diadakan sholat gerhana seperti ini, agar santri-santri bisa belajar sekaligus langsung praktek tentang tata cara sholat gerhana"

setelah sholat usai, dilanjut dengan khutbah yang disampaikan oleh beliau (Agus H. Abdurrozaq Sholeh). dalam khutbahnya beliau menyampaikan, "salah satu hikmah dari dianurkannya sholat ketika terjadi gerhana adalah karena manusia terbiasa apabila melihat suatu  fenomena, maka akan kaget, maka dianjurkanlah berdoa (sholat) ketika gerhana terjadi"

Diakhir Khutbahnya, Beliau menyampaikan bahwa matahari dan bulan adalah salah satu tanda kebesaran Allah, dan tidak ada kaitannya dengan kematian atau kelahiran seseorang.


GERHANA BULAN, Sebagai tanda atas kekuasaan Allah

Sang Maestro


Sang Maestro (2)













Untuk Penyewaan Hubungi :
Muhammad Agil (085749161248)

INDUK AUDIO SOUND SYSTEM

Dalam beberapa hadits yang mulia telah terdapat keterangan yang mendorong pembacaan sejumlah ayat dan surat al-Qur'an.

2 Ayat Terakhir Surat Al Baqoroh

Hal tersebut dikarenakan untuk meraih tujuan-tujuan khusus, kepentingan-kepentingan tertentu, menggapai harapan-harapan duniawi dan pribadi bagi si pembaca nya. Berikut ini saya sebutkan bukti-bukti dalilnya;
Diriwayatkan dari Abu Mas'ud Ra, beliau berkata: 

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ في لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ]

“Nabi Saw bersabda: “Siapa saja yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqoroh di suatu malam, maka kedua ayat itu menjaganya.” [HR. al-Bukhori]

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra dengan status marfu': 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ الله حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ]

“Rosululloh Saw bersabda: “Ketika kamu beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi, (niscaya) di sisihmu selalu ada malaikat penjaga dari Alloh, dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” [HR. al-Bukhari]

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'd Ra, beliau berkata: 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سِنَامًا، وَإِنَّ سِنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ. مَنْ قَرَأَهَا فِي بَيْتِهِ لَيْلاً لَمْ يَدْخُلِ الشَّيْطَانُ بَيْتِهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، وَمَنْ قَرَأَهَا نَهَارًا لَمْ يَدْخُلِ الشَّيْطَانُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ)) [رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِه]

“Rosululloh Saw bersabda: “Sungguh setiap sesuatu mempunyai keluhuran, dan sungguh keluhuran al-Qur'an adalah surat al-Baqarah. Siapa saja yang membacanya di rumahnya pada malam hari maka syaitan tidak akan memasuki rumahnya selama tiga hari, dan siapa saja yang membacanya pada siang hari maka setan tidak akan memasuki (rumahnya) selama tiga hari.” [HR. Ibn Hibban, dalam Shahihnya]

Oleh : KH Abdul Nashir Fattah

Akhir Surat al-Baqoroh Untuk Benteng, Perisai dan Penjagaan Diri

Subscribe Our Newsletter